Menghidupkan Semangat Kartini: Tango Musikal ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ di GKJ Sukses Memukau Penonton

Pertunjukan drama musikal 'Habis Gelap Terbitlah Terang' yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta, Minggu, (20/4/25). (Sumber Gambar: SINDOnews).

Gedung Kesenian Jakarta kembali menggeliat pada Minggu malam, 20 April 2025. Sebuah pertunjukan musikal unik bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang dipentaskan, menampilkan interpretasi baru atas semangat perjuangan R.A. Kartini melalui tari tango dan musik lintas budaya.

Jakarta, 20 April 2025 — Dalam atmosfer yang penuh nuansa dan sejarah, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) menjadi saksi pertunjukan istimewa bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang. Drama musikal ini tak hanya mengangkat kisah hidup Raden Ajeng Kartini, namun juga menyajikannya dalam kemasan artistik yang tak lazim: tarian tango Argentina yang berpadu dengan musik kontemporer dan narasi perjuangan emansipasi perempuan Indonesia.

Pementasan ini digelar menjelang peringatan Hari Kartini dan menjadi bagian dari program budaya lintas negara yang mempertemukan seniman-seniman dari Indonesia dan Argentina. Koreografer utama, Natalia Rivera (Argentina), bersama sutradara musikal asal Indonesia, Dwi Nugroho, menyusun karya ini selama hampir lima bulan. Tujuannya sederhana namun ambisius: memperkenalkan kembali sosok Kartini ke generasi baru dengan cara yang segar dan menggugah.

“Kartini itu simbol perubahan. Kami ingin menghadirkan perubahan itu dalam bentuk gerak dan bunyi yang tidak biasa, namun tetap bermakna,” ujar Dwi dalam konferensi pers sehari sebelum pementasan.

Pertunjukan ini terinspirasi dari Habis Gelap Terbitlah Terang karya Raden Ajeng Kartini yang melambangkan transformasi wawasan menuju kebebasan dan pencerahan. (Sumber Gambar: MediaIndonesia).

Simbolisme Gerak, Suara, dan Semangat Kartini

Pertunjukan berdurasi 75 menit ini terbagi dalam lima babak, masing-masing mewakili fase kehidupan Kartini: dari masa kecil di Jepara, pengalaman diskriminasi gender di lingkungan bangsawan, hingga kebangkitan kesadaran dan surat-suratnya yang legendaris.

Dalam salah satu babak yang paling emosional, seorang penari perempuan tampil solo dengan diiringi musik tango yang mengalun lambat. Gerakannya menggambarkan tekanan batin, keterbatasan ruang gerak perempuan, dan akhirnya pelepasan yang simbolik ketika ia mematahkan selendang hitam sebagai lambang keterkungkungan. Sorak penonton pun pecah, tidak hanya karena teknik menari yang memukau, tetapi karena pesan yang terasa begitu relevan.

“Ini bukan hanya soal seni, tapi tentang keberanian untuk melawan batas,” kata Lisa (26), seorang mahasiswi seni pertunjukan yang hadir malam itu. “Tango biasanya soal cinta atau gairah. Tapi malam ini, tango bicara tentang keadilan gender.”

Kolaborasi Budaya yang Hangat dan Reflektif

Musikal ini melibatkan lebih dari 30 seniman dari dua negara, termasuk musisi gamelan modern, penyanyi sopran, penari tango profesional, serta aktor panggung teater. Tata panggung sederhana namun atmosferik, didominasi cahaya temaram dan dominasi warna biru–emas yang mencerminkan suasana batin dan pencerahan.

Yang menarik, bahasa pengantar yang digunakan dalam narasi adalah campuran antara bahasa Indonesia, Inggris, dan potongan surat-surat Kartini yang dibacakan dalam bahasa Belanda. Ini menjadi pendekatan intertekstual yang memperkuat nilai historis dan global dalam pementasan tersebut.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan Kartini bukan hanya cerita lokal. Ini kisah universal,” ujar Natalia Rivera, yang juga tampil menari di babak akhir sebagai Kartini tua yang menyaksikan buah dari perjuangannya.

Respons Penonton dan Harapan Ke Depan

Hadir dalam pertunjukan malam itu sejumlah tokoh budaya, aktivis perempuan, pelajar, hingga turis asing yang tampak terkesima dengan suguhan tak biasa ini. Beberapa bahkan mengenakan kebaya sebagai bentuk penghormatan terhadap Kartini.

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan turut mendukung penuh acara ini sebagai bagian dari revitalisasi seni pertunjukan pascapandemi. Kepala Dinas Kebudayaan, Maya Prameswari, menyatakan bahwa kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan dengan tema dan pendekatan yang berbeda setiap tahunnya.

“Budaya adalah jembatan antar-generasi. Jika ingin pesan Kartini abadi, kita juga harus berani berinovasi dalam menyampaikannya,” ujarnya.

Dari Panggung ke Renungan

Habis Gelap Terbitlah Terang versi musikal ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah ajakan untuk merenung, memahami ulang, dan merayakan perjuangan Kartini dalam kerangka yang lebih luas—bahwa kebebasan, kesetaraan, dan pendidikan adalah hak setiap manusia.

Dan malam itu, Kartini menari. Tidak dalam kebaya klasik atau di balik pena surat, tapi di atas panggung, melenggok dalam irama tango yang menggugah. Dan dari sana, terang seolah terbit kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Rahasia Self-Care Tanpa Ribet, Cara Cewek Gen Z Rawat Diri di Tengah Kesibukan

Seni Bertemu Alam: Art Jakarta Gardens 2025 Hadirkan 25 Galeri di Jantung Kota

Perempuan Dimanjakan! Promo Makan Spesial Kartini 21 April 2025